Delapan Puluh Satu Hari Setelah Kau Pergi: AKU SUDAH MENGIKHLASKAN

Assalamualaikum w.w

Hai, apa kabarmu setelah delapan puluh satu hari perpisahan kita? Hmm. Jika aku boleh tahu bagaimana hari-harimu setelah kdzholiman yang kau buat untukku? Ah, terlalu sarkisme aku untuk bertanya hal itu. Bukankah ini masih suasana lebaran, masih bulan Syawal kan. Jika pertanyaanmu bagaimana aku tahu, jawabanku simpel karena kue-kue mentega di dalam toples cantikku belum habis dikunyah anak-anak.

Hai, kali ini izinkan aku menulis tentangmu lagi. Mungkin ini akan sedikit lebih panjang dari yang sebelum-sebelumnya, karena bisa saja setelah delapan puluh satu hari setelah hari ini aku tak ingin lagi menulis tentangmu. 
Masih ingat dengan tulisanku tentang Empat Puluh Empat Hari Setelah Kamu Pergi, ya itu aku tulis ketika kita memasuki bulan Puasa. Sekarang sudah lebaran, sudah bulan maaf-maafan, bulan kawin kata orang. Jujur, jika saja ku turuti egoku hingga detik ini aku tak ingin memaafkanmu. Kau satu-satunya orang yang ku hindari untuk meminta maaf baik lisan maupun tulisan seperti yang sering dikirim orang-orang. Lebaran ini aku pun masih belum memafkanmu, entah sampai lebaran keberapa. Kembali jika saja itu akan terjadi jika aku menuruti egoku. Tapi lihat, meski aku tak mengucapkan permintaan maaf padamu, toh, tetap saja aku telah memaafkan.

Hai kau lelaki yang pergi begitu saja saat aku lagi cinta-cintanya. Kemarin-kemarin aku mendapat kabar yang mengatakan kau sedang di kotaku. Entah apa yang kau buat. Sungguh aku tak berniat untuk bertemu dan tak ingin menemukan dan ditemukan olehmu, biar saja kau di kotaku. Toh kotaku tak bersalah, yang salah adalah aku menghirup oksigen yang sama denganmu selama beberapa hari. Jujur aku tak menyukai itu. 
Entah pikiran setan atau pikiran dari mana, tiba-tiba terbesit dalam otakku yang cerdas ini " Jika kau lelaki yang bertanggung jawab, yang Jantan dan dewasa, pasti kau akan ke rumahku, menemui orang tuaku, menyampaikan maaf dan mengembalikan aku meski kau tahu begitu terlukanya aku. Ya kasarnya kau pasti akan WALAIAKUMSALAM setalah beberapa tahun yang lalu kau datang izin kepada orang tuaku untuk mendekati dan menjalin hubungan denganku"
Dan, lihat kau tak datang bukan. Aku tak ingin menghakimi, tapi dengan pemikirinku yang lumayan cerdas saat ini kau bisa dibilang lelaki yang ah you know lah ya what i mean. Umur saja yang sudah kepala tiga kalau pemikiran dan tanggung jawab masih sama dengan anak-anak yang baru sarjana. Hai, jangan kau bilang dan pikir aku menjelek-jelekanmu, tanpa perlu ku lakukan semua orang sudah tahu sekarang siapa dan bagaimana kau. Kau yang memperlihatkan kepada dunia bukan. Aku tak menghinamu, tak bermaksud. Itu semua hanya pemikiranku saja, 
Dan aku bersyukur semesta memang tidak mempertemukan kita meski kita berada dalam satu kota yang sama, dan sama-sama menghirup asap dan oksigen yang sama, kota yang dahulu kau caci karena panasnya. Aku bersyukur tak menjadi manusia yang bodoh lagi seperti dulu, berlari-lari dan merengek manja jika bandara memisahkan kita. Tidak, aku tidak seperti dulu lagi. Kau tidak mengenalku yang sekarang.

Suatu hari nanti akan ada masanya untukmu menyadari bahwa kau tidak akan menemukan sosok seperti aku pada diri orang lain. Suatu hari nanti meski kau tidak merindukanku, tapi kau pasti akan merindukan kenangan tentangku yang selalu menjadi penyebab kau tersenyum. Pergi menjauh? Ahh, gampang untukku. Melupakan kenangan tentangku? Nah, itu yang susah kau lakukan.

Hai sudah puas kau membaca tulisanku yang di atas, ya  itu aku yang menulis. Aku sebagai aku yang masih menangis tiap malam karena tingkahmu, aku yang menangis karena masih melihat bayangmu sebelum tidur. 
Sekarang kau akan membaca tulisanku, aku sebagai aku yang telah mengikhlaskanmu telah mengikhlaskan kejahatanmu. Aku yang tak akan pernah membencimu lagi, aku yang telah 'berhijrah' kata orang, aku yang selama puasa meminta keadilan pada Tuhan atas ini semua.

Hai, apa kabarmu? Ini aku perempuan yang dulu pernah kau cintai, perempuan yang ku rasa fotonya masih kau simpan. 
Jika kau bertanya padaku tentang kabarku, maka jawabanku aku luar biasa. Tuhan telah mengirimkan banyak malaikat tak bersayap untuk menghiburku dan perlahan menghilangkan sakit dna benci yang ada di hatiku. Aku bersyukur Tuhan menghiburku dengan kalam-kalamnya. Aku bersyukur Tuhan menyadarkanku pada bulan Suci bahwa tak baik terlalu mendamba lebih baik menjadi dambaan. 

Hai, bagaimana dengan proses pernikahanmu, ku doakan semoga itu lancar. Sudah tak perlu curiga padaku, kali ini aku tak mendoakan keburukan atasmu tak pula menyumpah seperti yang ku lakukan padamu saat terakhir kita bertemu. Aku mendoakanmu tulus. Tak usah takut, dan jangan curiga, aku mendoakanmu sebagai sesama insan Tuhan yang mendengar kabar saudaranya akan menyempurnakan setengah dari iman dan ihsannya. 

Kemarin, masih saja ada orang yang mengirimkan fotomu dengannya kepadaku. Ku lihat senyummu begitu indah, bahkan melebihi senyum yang dulu kau berikan untukku. Ku rasa kau cukup bahagia bukan. 
Kau tahu, memaafkanmu saat ini menjadikan hidupku jauh lebih ringan, dan jujur, jauh lebih terasa menyenangkan jika aku melihat kau bahagia ya meski bahagiamu hidup dengannya 'dengan perempuan itu'. Aku senang teramat senang, kau sudah jauh lebih bahagia dari sebelumnya. 
Jika kau bertanya dan berpikir tentangku, aku disini baik-baik saja. ya meski aku belum dapat menyandarkan dan menemukan tambatan hati seperti dirimu. Karena kau tahu aku percaya Tuhan telah menyiapkan bahagiaku dengan cara dan waktu yang sangat luar biasa dan tepat. Tuhan akan membuatku tersenyum jauh lebih lebar hingga aku lupa cara menutup mulut, Tuhan akan bikin aku tertawa hingga lupa caranta berhenti, Tuhan akan bikin aku bahagia sampai aku lupa apa itu sedih. Dan aku percaya tangan Tuhan pasti bekerja untukku. 

Dulu melupakanmu adalah hal yang sangat sulit dan ku anggap itu sangat mustahil, sama seperti keputusanku untuk mengakhiri hubungan yang jelas kau duakan, sama seperti keinginanku untuk berhenti menyanyangimu. Dan sama seperti berhenti menyebut namamu dalam tiap doa-doa panjang malamku. Aku perempuan yang lebih bayak memakai perasaan daripada logika, saat aku berjalan dan berdiri pada satu titik tempat yang di dalamnya ada bekas-bekasmu, kenangan itu masih saja datang hadir dna menghantui disana dan aku pun berharap bisa mengulangi cerita dan kenangan itu bersamamu lagi dan lagi. Namun segera aku ingat dan kembali tersadar, sadar akan sakit yang pernah kau berikan, dengan luka yang kau tinggal dan membekas di sudut tempa yang ku sebut hati, dan aku kembali sadar jika aku kembali mengingatmu adalah suatu kesia-siaan yang semakin lama akan menyesakkan. Bila melupakanmu adalah yang tak mungkin ku lakukan. Maka memendam dirimu dengan cinta yang baru adalah hal yang paling masuk akal yang akan aku lakukan, adalah kemungkinan terbaik. Dengan cinta yang lebih indah darimu dengan cinta-NYA.

Seusai janjiku padamu delapan puluh satu hari yang lalu, ketika kita berakhir maka aku takkan memaksamu untuk tinggal. Jika sekarang kau bertanya mengapa. Maka kau harus tahu, adalah kebodohan semata memaksakan orang yang kita sayang untuk bersama kita sementara diaa sudah jengah dan tak nyaman berada di sisi kita. Itulah alasanku untuk tidak memaksa dan megaharapkan kau kembali. Dan Sesuai janjiku padamu bukan, setelah kau pergi aku tidak akan pernah menggangumu lagi untuk selamanya. 

Sekarang aku sudah lepas, lepas melepas semua kenangan kita. Rela melihat kau bahagia mengikat janji dan mimpi pernikahan dengannya perempuanmu yang baru. Jika kau bahagia di sana, maka aku bisa apa.
Sekarang aku sudah tak mendoakan keburukan atasmu lagi. Sekarang aku hanya bisa mendoakan kau untuk terus hidup agar kau bisa melihatku bahagia dan tertawa tanpa satu kebohongan yang dulu begitu menyakitkan darimu. Belakangan ini aku belajar bahwa bergulung dengan rasa sakit dan pergi meninggalkan cinta yang sepantasnya untuk ditinggalkan dan mengizinkan cinta perih dan berhenti berlabuh dari hatimu adalah hal yang harusnya aku terpakan delapan puluh satu hari yang lalu.

Terima kasih setidaknya kau pernah hadir dan menyapa, terima kasih kau pernah mengajariku apa itu arti memberi dan menerima,apa itu nafsu dan sayang, apa itu obsesi dan cinta. Terima kasih perna menuai cerita walau harus terpisah. Terima kasih telah membuka mataku mana yang jujur dan bohong belaka. Terima kasih pernah ada dan pergi. Terima Kasih.

Empat puluh Empat Hari setelah kamu pergi

14 juni 2017 pukul 00. 17
Pagi ini pekanbaru diguyur hujan yang cukup deras. Mungkin alam membisikan bahwa ini tanda-tanda malam yg lebih baik dari seribu bulan. Ya sekarang masih bulan Ramadhan. Bagaimana Ramadhanmu? Bagaimana tarawihmu? Sudah juz berapa yg kau baca? Sudah berapa kali kau berbuka bersama dengannya, sementara aku disini berbuka seorang diri ditemani kesenyapan.
Pekanbaru hujan. Dan Sayang, kau tahu aku benci hujan. Hujan yg dulu begitu ku nikmati dan nanti kini berganti dengan hujan yang penuh dengan kebencian. Sekedar flash back mengapa aku sekarang amat membenci rahmat Tuhan satu ini.

Oktober 2016. Hari jumat. Entah tanggal berapa tepatnya aku lupa. Malam itu kau menemaniku dirumah. Kita makam malam bersama seperti biasanya. Kau pun tertidur entah karena kelelahan atau kekenyangan. Tak tega aku membangunkanmu, menyuruhmu pulang. Ya, diluar hujan sedang turun dengan derasnya. Manalah tega aku menyuruh berjalan pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul sebelas. Ku tunggu hingga kau terbangun, namun kau terlalu lelap sayang.
Terserah kalian yg membaca ini menganggap aku murahan atau jalang atau apalah namanya, ketika laki-laki yang bukan muhrimnya tertidur dirumah.  Hai, dont dare to much. Kami tidak berdua. Ada adikku dirumah.
Setegah satu pagi kau terbangun, kaget melihat rumahku sunyi dan gelap. Seketika kau tersadar begitu lama kau tertidur. Kau ketok pintu kamarku dengan sangat lembut, berusaha membangunkanku. Kau ingin pulang.
Maaf sayang, waktu itu aku tak mengizinkanmu. Bukan karena aku murahan dan ingin menggodamu. Aku pun masih tahu batasan dan punya harga diri. Aku hanya berusaha menjaga nama baik orang tuaku. Takut-takut kalau fitnah terjadi mendapati seorang lelaki pulang dari rumah anak gadis di tengah malam. " tak usah cemas, kita dirumah tidak dirumah. Ada adikku kan, lagian abang bisa tidur di lantai atas sedangkan aku di kamar orang tuaku di bawah" ucarku dengam suara serak khas orang baru bangun. Aku tahu kau marah. Kau berusaha menolaknya. Tapi ternyata kau memahami situasiku saat itu. Syukurlah.
Itulah pertama kalinya aku melihat kau pergi tidur dan pertama kali aku melihatmu bangun tidur keesokannya. Ah, kau begitu tampan kala itu.

Malam ini telingaku ditemanin Ed Shareen -Photograph- ya semua masih terekam jelas di memoriku. Malam ini aku kembali teringat padamu. Bukan, bukan maksudku untuk mengunngkit yg telah terjadi, dan jangan kau bilang aku mengungkit2 budi. Kauntak bergutang budi. Aku pun tak merasa. Aku hanya sekedar mengingatkan setidaknya kita punya kenangan di saat hujan. Hujan yang menahanmu di rumahku. Hujan yg membuat aku berdoa agar kau yg aku lihat di akhir malam dan di awal pagi. Hujan yg membjuat hatiku terasa nyaman. Karena aku percaya kau selaluelindungi dan mengingatku kala hujan turun.

Tapi semakin aku mengingatnya semakin bertambah sakitku padamu. Semakin aku coba melupakanmu semakin terasa sisa - sisa kenangan yg dulu pernah kita punya. Sekarang, aku benci kau. Aku benci hujan. Malam ini aku kembali tersakiti. Hatiku terluka lagi. Aku kembali menangis lagi. Mengingat semua rasa sesak dan sakit yg kau toreskan oleh segala dusta dan duamu. Kau yg membuatku benci hujan. Kau yg membuatku muak untuk kembali berdoa saat hujan. Kau bukan pelindungku kala hujan. Kau sama seperti kilat petir dan badai. Menyakitkan.

Sebulan Setelah Kita Putus

Hay.
Sebulan sudah kita resmi berpisah. Bagaimana kabarmu? Ah, masih saja aku bertanya tentang kabarmu. Malam ini aku tidak bisa tidur. Entah kenapa? Jujur, padahal hari ini aku lelah sekali.

Mataku nyalang menatap langit-langit kamar yg baru saja selesai di cat ulang minggu lalu.  Tiba-tiba saja aku teringat akan salah satu status facebookmu kala itu,
Nur + Ilham = Nuril.
Ya kau ambil singkatan dari nama depan kita masing-masing. Katamu, insyaallah itu nama anak kita kelak. Kau juga ingin menambahkan nama belakang ayahmu menjadi nama belakang anak kita. Aduh Sayang, dulu semua itu begitu indah. Angan - anganmu, mimpi - mimpimu denganku begitu indah. Jujur, aku masih ingat itu semua. Lalu bagaimana denganmu, apa kau sudah melupakan itu semua. Atau kau sudah merencanakan mimpi-mimpi baru dengan perempuan baru pula. Mimpi yg dulu begitu berwarna untukku, kini hilang mengabu bersama kepergianmu.
Ya, aku tidak akan mengungkit segala macam kenangan dan mimpi yang dulu kau katakan untukku. Itu hak mutlak darimu, entah kau akan melupakan atau mengganti dengan yg baru.
Hanya saja, terkadang dalam meniti jalan aku masih teringat akan mimpi-mimpi yang kita jalin bersama di dalam satu garis himpunan cinta.

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, sudah lelah badanku menapaki hari ini. Ingin aku tidur, tapi lagi2 kau datang dalam bentuk kenangan yang menyakitkan sekaligus mengindahkan. Wahai kau pendusta disana, ku harap kau tertidur lelap di pelukan wanitamu. Hingga kau bermimpi indah dan melupakan mimpi menyakitkan yg dulu kau ukir denganku.

Sebulan setelah kamu pergi, segalanya masih sama dan begitu hampa. Menyadari bahwa kamu tak ikut terluka, membuat aku terus bertanya-tanya. Jika dari awal segalanya tak didasari cinta, mengapa kau begitu berani untuk berkata cinta? Mengapa kau begitu berani mendatangi ayahku? Jika dari awal memang dalam hatimu tidak pernah ada perasaan sayang, mengapa kamu memanggilku dengan panggilan sayang? Jika selama ini aku hanyalah pemain pendukung dalam drama kehidupanmu, mengapa seakan kau libatkan aku begitu jauh dalam dramamu?
Kamu tahu, Sayang? Tidak ada yang lebih menyakitkan, daripada berjalan terlalu jauh, lalu kautinggalkanku di tengah jalan, sebelum kita berdua sampai di tujuan. Kau tinggalkanku begitu saja. Begitu saja. Seakan kita tidak pernah memulai segalanya. Seakan aku bukan siapa-siapa. Seakan aku hanya mainanmu saja.

Setelah Segalanya Berakhir

Hay,
Bagaimana kabarmu di sana? Bagaimana ramadhanmu tahun ini. Ya, ini ramadhan pertama kita setelah kita telak berpisah. Aku masih ingat dengan jelas, bagaimana hari-hari di ramadhan kita dahulu di lewati dengan saling mendoakan kebahagian kita. Aku masih ingat bagaimana dulu kita menghabiskan waktu mengobrol setelah ritual sahur. Lalu, setelah denganku, dengan siapa lagi kau menunggu waktu subuhmu. Apa dengan perempuan yang kau sebut tunanganmu?
Ah, apa kabar dia? Apa dia memberikan takjil berbuka padamu,karena yang ku dengar dia begitu dekat dengan ibumu. Bisa saja dia sudah mendapatkan sepatuh hati ibumu. Yang seharusnya dulu itu hanya untukku.

Hai,
Ini ramadhan hari yang ke dua. Ingin aku mengucapkan maaf lahir bathin agar setidaknya amal ibadah ku tidak ternoda dengan amarah dan benci yg mengakar padamu. Namun, rasanya benci itu buka lagi mengakar melainkan sudah menjalar di setiap saraf-saraf otakku. Jadi wajar saja jika aku enggan untuk mengucapkan maaf padamu. Entah perlu berapa ramadhan bagiku untuk melupakan dan mengikhlaskan segala kejahatan dan kebohongam yg telah kau buat. Tunggu, bukankah bagimu di kisah kita aku yang salah. Ya terserah bagaimana orang memandang sekarang, aku tak ingin mencap diriku baik.

Ini malam ramadhan ke tiga. Entah kenapa aku tiba-tiba teringat engkau disana. Apa kabar dirimu sekrang? Apa kabar laki-laki yang telah berhasil mengajarkanku terbang karena cintanya dan berhasil pula membuatku 'gila' karena cintanya.
Apa sekarang kau sudah bahagia? Apa pernah dalam tiap malam-malammu kau mengingat atau memikirkanku. Aih, terlalu naof aku utk berharap dan mengkahayalkam hal yg tak mungkin. Bukan, aku bukan mengaharapkanmu kembali ke pelukku. Jangan salah sangka dulu. Aku hanya berharap, apa kau sudah merasakan apa yg ku rasa. Apa kau sudah merasakan betapa beratnya rindu itu, betapa sakitnya hati yg telah kau lukai itu. Atau, apa kau sudah merasa kehilangan aku sekali saja. Aku rasa kau tidak pernah merasakan itu, karena ada dia yg bisa dengan gampang kau jadikan pelarian. Hehe, maafkan kata - kataku barusan, atau apa iti betul? Apa jangan-jangan terkadang dia kau jadikan pelarian. Ya, itu sih terserah padamu. Tapi saranku jangan. Cukup aku saja korbanmu.

Jika boleh aku berkata sedikit melankolis ingin aku mengakatan.

" apa kabarmu di sana? Bahagiakah kamu ketika kau memutuskan untuk mengakhiri segalanya padahal hubungan kita sedang baik-baik saja? Puaskah kau meninggalkan seseorang yang paling mencintaimu, tanpa memberi dia kesempatan untuk bertanya dan mendapatkan penjelasan yang jujur? Senangkah kau menjalani hari-hari tanpa kehadiranku disampingmu? Kalau memang jawabannya iya, betapa bahagianya hidupmu sekarang. Sedangkan di sini, yang aku rasakan adalah kebalikan dari yang kau rasakan. Sepertinya memang, hanya aku yang paling sedihenghadapi perpisahan kita. "

Ketika Semua Memang Harus Berakhir

Sebulan sudah kejadian itu menghantamku, kejadian yang tak mungkin pernah ku lupa. Kau yang begitu ku banggakan, yang dengan segenap hati aku curahkan seluruh cinta tega mengakhirinya. Sesak dada tak jua hilang, bahkan setelah sebulan. Senyumku tak pernah kembali utuh, tawaku tak pernah lepas. Air mata menjadi teman setia hampir di setiap harinya. Kau lelaki yang begitu ku percaya dengan teganya menghilangkan ceriaku. Kini aku bahkan tak mengenal siapa aku.

Perempuan mana yang tak sakit hatinya melihat sebuah bukti yang dengan jelas mengumbarkan sebuah kemesraan yang seharusnya itu hanya milik kita. Aku bukan perempuan yang kuat, melihat kau dengannya berbahagia. Tiadakah kau berpikir sedikit saja tentang aku kala itu, tidakkah kau ingat tentang semua kenangan yang susah payah kita tuliskan dalam kisah cinta kita. Kau yang seharusnya membimbing kini menghilang.

Berat langkah kakiku untuk berjalan menapaki setiap jalan-jalan kehidupan. Aku lemah.
Cerita kita begitu membekas, entah dengan cara apa aku harus menghapusnya.
Ingin ku tuangkan semua yang terjadi ke dalam sebuah tulisan, namun jari-jariku terlalu kaku untuk menulis.
Tiada pernah mengering air mataku kala menyendiri, kala mengenangmu dan semua tentang kita. Aku tak sanggup. Aku tak bisa berdusta, dulu semua itu begitu indah.

Tiada ku sangka, hari terakhir kita bertemu adalah hari penuh dengan dusta. Jika saja aku bisa berkata jujur, malam itu ingin rasanya aku memelukmu kembali dan mengatakan betapa aku merindukanmu. Ingin ku berikan kau kesempatan ke dua. Tiada ku sangka, asaku malam itu haya tinggal harap yang tiada terkabul.

Malam itu ingin aku memaafkanmu, menerimamu walau kesalahan yang kau buat begitu menyakitkan. Jujur bagiku tiada yang bisa menggatikanmu. Tapi berulang ku katakan, itu hanya harapku. Kau bukan lagi orang yang ku kenal. Kau berbeda. Entah sejak kapan, aku tak lagi mengenalmu.

Malam itu malam terkahir kita bertemu, 31 April 2017. Sebuah tanggal di kalender yang akan selalu ku ingat. Malam perpisahan kita tanpa saling menatap. (ah, jika saja kau tahu alasanku tak menatap)
Malam itu di tempat pertama kali kau menyatakan cinta menjadi tempat pertama kali pula kau berdusata, menjadi tempat perpisahan kita.

Aku hilang arah, ketika kau mengatakan hal yang lain, sementara orang lain mengatakan hal yang lain pula. Hai, mengapa kalian, dua orang yang paling ku cinta tega mendusta, berbohong dan menusukku begitu tajam. Aku jatuh sejatuh-jatuhnya, aku hancur, bahkan aku bisa dibilang gila. Tak tahu siapa yang bisa ku percaya!

Aku terluka.

Sebulan sudah setelah bukti itu ada, 14 hari sudah ketika kita resmi berpisah. Masih saja aku menangisimu, bahkan ketika menulis seperti saat ini.
Empat belas hari sudah, dan ku lihat kau berbahagia dengan hidupmu sekarang.
Empat belas hari sudah aku berpikir keras tentang seluruh kesalahan yang mungkin pernah ku lakukan hingga kau dengan begitu mudahnya pergi.
Empat belas hari sudah, dan kau sudah memberi tahukan dunia bahwa kau sudah punya yang baru.
Sementara aku,
Empat belas hari empat belas malam berdo'a agar kau diberikan hidayah, diberikan keselamatan, dan diingatkan tentang aku walau sedikit saja. Ah, masih saja aku mendo'akanmu.
Empat belas hari dan aku masih menangis ketika kembali teringat kenangan itu.

Disana ku lihat kamu tetap baik-baik saja, seolah semua yang terjadi di antara kita bukan hal yang penting.
Betapa mudah bagimu melupakan kita, yang bagiku itu merupakan hal terindah.
Kau bermain-main dengan hidupmu yang baru,
Kamu tidak mau tahu, apa aku masih kuat saat hatiku kau buat terlalu patah.
Aku benci denganmu
Kau telah berhasil mematahkan hatiku, membuatnya tak pernah utuh lagi.
Kau, ah aku tak tahu lagi harus berkata apa. Aku takut.
Takut ketika kata-kataku menjadikan aku sama seperti dia di masa lalumu.
Kau, wajahmu masih sering muncul di kepalaku bahkan saat aku menutup mata.
Andai aku tahu akhir kisah kita, andai aku bisa memutar waktu takkan aku mau mengenalmu. Takkan aku memintamu pada Tuhanku. Takkan ku katakan pada dunia kau yang ku mau, lelaki sepertimu yang ku ingin.

Beri tahuku caramu melupakanku, agar ku lakukan dan melupakan serta membuangmu di memoriku otakku. 

Sesak. Sakit. Terluka. Marah. Benci.
Aku tak sehebatmu dalam perkara melupakan, Tidak bisa bagiku secepat itu merelakan.
Namun aku coba untuk membunuh semua hal tentangmu.
Hanya saja aku butuh waktu, semuanya memang tidak mudah bagiku.
Kau sudah membuang sesuatu yang ku namai cinta dan rindu,
berat langkah kaki ini saat kau memintaku untuk pergi,
apa ini caramu menepati janji-janji,
bagian mana dari diriku yang membuatmu pergi dan meragukanku.
Bisakah kau beri penjelasan, meski akhirnya hati dan perasaanku tetap saja kau tandasakan
Bisakah kau mencoba mengajarkan cara memahami bagaiaman menerima perasaan tetap sama
saat oarang yang kita cintai pergi
Itulah yang kini kurasakan, lalu bagaimana dengan perasaanmu?
Jujur, saat ini aku berada di titik paling membencimu, ku akui aku belum ikhlas melepasmu, dan itu yang paling ku benci. Karena, aku pernah begitu tenggelam dalam keadaan sangat mencintaimu.

Masih saja namamu tetap terucap di tiap do'aku. Tetap saja aku mendo'akan keselamatan akanmu, kebahagian atasmu, dan jauhnya karma darimu. Tapi salahkah aku jika ada sedikit kata dalam hati yang mengingkan kau untuk merasakan sakit yang sama. 

[Review] Pixy Cleansing Express Brightening

Hai hai hai
I am come back... come back, back.*versirostitanic*
Kali ini aku mau sedikit review tentang cleansing favoriteku.what's that?
***
Nah, aku kenal sama cleansing ini sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di Medan.
Jadi dulu sekitar beberapa tahun yg lalu, pertama kali kena jerawat - jerawat rindu. *alahbahasanya* aku itu pakai pembersih yang dari Ovale dan Viva.
Tapi si muka sensitif nan hitam manis ini ternyata g mau berlama-lama dengan produk yang murah meriah muntah ini.
Ketika aku pakai Ovale, mukaku sih nerimo2 aja, tapi lama kelamaan sering bruntusan :'( dan sering merah kayak kebakar gitu. Padahal aku pakai Ovalnya juga udah rada lama, ya hitungan tahunan gitulah ya. *hiks*
Dan aku putuskan untuk berhenti sejak saat itu.
***
Pindahlah ke si Viva, nah ini rekomend dari salah satu teman cowokku, yang kebetulan dulu mukanya sama kayak aku hitam manis cuma jerawat doi lebih banyak . No mention lah ya. :D
Dia suruh, coba deh pakai Viva. Memang rada ribet karena harus dua kali. Ada cleansing/susu pembersih dan toner gitu soalnya. Tapi yang alami kan bagus. Gitu sih katanya. Karena aku pikir  masalah kami hampir sama, ku cobalah kata si kawan ini.
Namun apa yang ternyata, *khianati sebisa dirimu mengkhianati* malah nyanyi.
Mukaku tambah jerawatan, ternyata eh ternyata minyak yg terkandung di susu  pembersihnya menumpuk di muka ku.Hikshikshiks. 
Apa g makin stres kepala Butet kakak.
***
Nah, pas di Medan itulah si Butet ini nemu cleansing yang sekarang jadi bahan wajib di meja kamarku.
Ternyata mukaku malah minta yg murah2., nampak kali muka belum orang kayanya.
PIXY CLEANSING EXTRA BRIGHTING. 
Cleansing Express dari Pixy. Ini kesayangan aku banget. Biasanya pas pulang dari mana gitu, atau pas mau tidur aku sempat-sempatin untuk bersihin muka, itu pun kalau pas lagi rajin. hehehe :D. Kalau malasnya kumat ya Butet pakai Facial Wash aja. #janganditiru
Kenapa aku suka banget sama ini barang? PIXY CLEANSING EXTRA BRIGTHING ini Alcohol-free, dan 100% terbuat dari air jadi lembut untuk membersihkan kotoran dan make up. Dapat digunakan untuk daerah mata dan bibir. Ya hitung-hitung hemat make-up removernya.

Formula

Pixy Cleansing Express Brightening :  
- Natural Whitening Extract, membuat kulit lebih cerah.
- Mengandung soya bean lecithin dan derivat vitamin c, membersihkan kulit, mengangkat kotoran, make up dan minyak berlebih di wajah tanpa membuat kulit kering sehingga kulit bersih, lembut dan terasa lembab.
 Sedangkan hasil yang dilakukan oleh Si Pixy ini lumayan bersih kok, biasanya sebelum cuci muka pakai Facial wash, aku gunakan ini dulu untuk bersihkan sisa-sisa debu dan bedak yang nempel. Jadi ketika udah di cuci pakai facial wah ku harap g da yang tertinggal lagi. Caranya: basahkan kapas muka, (bukan kapas luka) menggunakan Pixy Cleansing Expree Brighting ini dan usapkan atau hapuskan ke bagian wajah yang mau dibersihkan. and eng ing eng ini hasilnya.
ketahuan bedak aku setebal apa. -_-
Lumayan bersihlah ya. Jadi my Opinion is, lumayan lah buat dicoba ini barang. Soalnya di muka Butet ini adorable banget. Ga buat ketergantungan, Ga mahal, Bisa beli di Indomaret.
Pixy Cleansing ini ada dua varian satu yang anti acne, dan satu lagi yang Brightening. Aku sengaja pakai yang Brightening, soalnya kalau untuk masalah jerawat sendiri aku sekarang udah nemu jodohnya. Kapan-kapan Butet review lah ya kalau ada paket berlebih lagi.  Nah yang Brightening ini buat muka g kusam, dan cerah. CERAH bukan PUTIH. Karena Hitam Manis itu anugrh Allah, g perlu putih lagi.

Makasih ya udah baca review Butet, jangan lupa di coba barang di atas. Jangan lupa tinggalin komen yang cantik di sini ya.

- Selamat Long Weekend Eperibodi-

Review: Buah Tangan baru dari Riau :Pienya kak Wulan

Bulan lalu, ketika mau balik ke Medan untuk wisuda aku dilanda kecemasan dan kepanikan.halah.. Gimana g panik coba untuk pertama kalinya aku lupa beli oleh-oleh untuk Pusba squadnya USU.
Bingung bin panik mau kasih apa, di limit time sebelum flight siang ini. Cek cek ig ga juga ketemu. Ada aja kendalanya, yg harus po dulu lah, yang g bisa deliv lah, abc lah pokoknya. But, banyak teman banyak bantuan hahaha..

Tarrrraa...Tiba-tiba aku dapat bcnya temanku yang lagi merintis usaha kuliner. Namanya  k.o_c
Nah, temanku ini sedang buka usaha di bidang birthday cake (bisa custom), pie, choco lava. And made by order. Syukurnya, pas aku order pas masih ada sisa. Karena, kalau belum order kakak ini g bisa buat.
yang ini rasa brownis apa gitu, belum coba sih tapi bakal di order secepatnya 

Pie Susu Ori, enak asli...asli enak.
Dulunya sih aku sempat pesan fruit cake sama kakak ini, kak Wulan biasanya aku panggil. Birthday cakenya endes banget, kata mamak ku sih. Waktu itu masih di Medan, belum sempat icip-icip.
But, in injury time. Aku pesanlah ya pienya yang tahan tiga hari di luar kulkas. Yeay. Anak kos kan g punya kulkas jadi tahan lah ya untum pusba squadnya. Yang ku pesan itu pie chocomaltine dan pie ori. 
Ini Topingnya rasa chocomaltine
Rasanya endes, enak asli, asli enak. *ini nulis sambil ngiler ingat rasanya*
Usaha pie ini berawal dari bisnis online sejak tahun 2014 lalu yang dijalankan oleh pasangan suami istri. Dari usaha rumahan yang gencar promosi di BBM, sekarang mereka sedang merintis. Keren, ya!
Produk utamanya udah jelas dong apa? Yes, Birthday Cake dan pie.
Saya sih pecinta pienya. Enak banget! Beneran deh. Kulit pienya remah, sedikit rapuh tapi no problemo. Yang penting gak keras jadi makannya gak butuh perjuangan hihihi. Flanya juga enak. Manisnya pas dan gak bikin eneg. Yang paling juara sih, toppingnya. Enak banget kakaaak. Apalagi yang chocomaltinenya dan pie originalnya favorite saya. Endeus pisan! *topping yang lain belum sempat coba semoga bisa pas pulang untuk coba lain waktu*
Kalo lagi males keluar rumah tapi pengen banget pienya gimanaa?
Nah ini jadi salah satu nilai plus dari ol shop Kakak ini adalah karena mereka menyediakan jasa delivery service! Asik banget kaaan. Jadi aku g perlu repot lagi untuk pergi beli,jadi sambil nunggu waktu flight aku sambil packing sambil nunggu suami kak Wulan datang antar pesanan. For the first time, akhirnya saya cobain nih jasa delivery servicenya k.o_c.
Aku pesan via Bbm dan surprisingly adminnya responsif banget. Pesan jam 9an untuk diantar ke rumah jam 11 siang. Abangnya langsung hubungi saya by phone lho pas sampai rumah. Jadi pelayanannya benar-benar cepat banget. Trus saat diantar pun, delivery mannya ramah banget. Sabar banget waktu saya kasih tau penjelasan soal alamat ke rumah saya.

Yowes, biar gak penasaran, langsung main-main aja ke account social medianya Kak Wulan. Yang pasti, insya Allah gak mengecewakan deh beli pie di sana.
                                     
Invite pin : 57B86B24
ig : ikhsiana
fb : ikhsiana wulandari
line : ikhsiana
Line@ : @bgd3004n


Bloggerperempuan

Blogger Perempuan
 
Catatan Si Butet Blog Design by Ipietoon